Sabtu, 04 Desember 2010

Metode Pendidikan dalam Hadis: Metode Perumpamaan


Oleh: Bukhar Umar

Perumpamaan berarti pemberian contoh, yaitu menuturkan sesuatu guna menjelaskan suatu keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicontohkan, lalu menonjolkan kebaikan dan keburukan yang tersamar.[1] Sehubungan dengan ini ditemukan hadis antara lain:
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ. رواه البخارى ومسلم وأبو داود والترمذى والنسائى.
Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Alquran adalah bagaikan ‘al-Utrujjah’. Aromanya harum dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah bagaikan ‘tamar, kurma’. Aromanya tidak ada dan rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq yang membaca Alquran adalah bagaikan ‘ar-Raihanah’. Aromanya harum dan rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafiq yang tidak membaca Alquran adalah bagaikan ‘al-Hanzhalah’. Aromanya tidak ada dan rasanya pahit.
Dalam hadis ini terdapat empat golongan manusia bila dihubungkan dengan Alquran, yaitu:
(1) Golongan yang hatinya dipenuhi oleh iman. Iman mengalir ke sekujur anggota tubuhnya. Ia yakin kepada Allah, beriman kepada Rasul, membenarkan Alquran, mengamalkan agama, menjadikan dirinya bagian dari Alquran, membacanya pada malam dan siang hari ketika berdiri, duduk, rukuk, dan sujud. Kapan saja ada kesempatan untuk membacanya, selalu ia manfaatkan, sehingga hatinya tidak berpaling dari mengingat Allah dan syetan tidak dapat mengganggunya. Bacaannya tidak sekadar di lidah. Akan tetapi, hatinya juga membaca sehingga membuahkan rasa takut dan mendapat petunjuk, melahirkan amal kebajikan dan teguh pendirian.
(2) Golongan yang beriman kepada Alquran, menerapkan hukumnya, mengikuti petunjuknya, menerapkan akhlaknya tetapi tidak membaca dan menghafal Alquran. Ini bagaikan kurma yang manis tetapi aromanya tidak ada.
(3) Orang jahat (munafiq) yang tidak memiliki iman kecuali sekadar sebutan, tidak memiliki agama kecuali merek, ia membaca Alquran, menghafalnya dengan baik, meyakini syariatnya, mengenal bacaannya, membaguskan lafal dan iramanya, tetapi bacaannya itu tidak melampaui kerongkongannya. Bila engkau mengujinya, engkau akan tahu bahwa hatinya busuk dan gelap, akhlaknya jelek, perbuatannya berbahaya. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dengan "al-Rihanah". Bila Anda cium, aromanya harum, tetapi bila Anda makan, rasanya jelek. Hatinya cenderung kepada yang jelek. Anda akan merasakan jeleknya bila Anda bergaul dengannya. Tidak ada pengaruh Alquran terhadap dirinya karena kejahatannya telah menutup hatinya dan nasihat orang lain tidak berguna baginya.
(4) Orang jahat (munafiq) yang tidak ada hubungannya dengan Alquran. Ia tidak berilmu tentang Alquran, tidak mengamalkannya, tidak membaca dan tidak menghafalnya. Orang ini disamakan oleh Rasulullah SAW. dengan "al-hanzhalah" yang tidak beraroma dan rasanya pahit.
Analisis Kependidikan:
1.    Rasulullah saw. mengemukakan perbandingan kualitas manusia dengan buah-buahan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dalam kehidupan manusia. itu sekaligus merupakan alternatif bagi manusia untuk menempatkan dirinya;
2.    Dalam mendidik umat, Rasulullah menggunakan pendekatan rasional dan fungsional. Dengan pendekatan rasional, manusia diajak berpikir dalam membedakan mana yang terbaik, mana yang kurang baik dan mana yang paling jelek. Dengan pendekatan fungsional, Rasulullah memperkenalkan kepada manusia manfaat yang diperoleh oleh seseorang bila dia memilih sesuatu yang baik dan apa kejelekan dan kerugian yang akan timbul bila seseorang memilih sesuatu yang jelek.
3.    Iman yang benar perlu dibuktikan dengan amal yang saleh. Amal yang baik perlu dilandasi oleh iman yang benar. Keserasian keduanya yang dapat mengangkat derajat manusia di sisi Allah. Mengambil salah satunya saja tidak dapat menjamin kualitas umat yang beriman.
Abdurrahman An-Nahlawi menjelaskan bahwa metode perumpamaan qurani dan nabawi memiliki tujuan psikologis-edukatif, yaitu: (1) memudahkan pemahaman mengenai suatu konsep, (2) mempengruhi emosi yang sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan, (3) membina akal untuk terbiasa berpikir secara valid dan analogis, dan (4) mampu menciptakan motivasi yang menggerakkan aspek emosi dan mental manusia.[2]
Setelah memperhatikan tujuan dan dampak yang ingin diperoleh di atas, sebaiknya pendidik menggunakan metode perumpamaan ini dalam pendidikan Islam. Perumpamaan yang terbaik adalah perumpamaan qurani dan nabawi, yaitu perumpamaan yang terdapat dalam Alquran dan hadis.


[1]Lihat, Abdurrahman An-Nahlawi, Op.cit., h. 251
[2]Lihat, Abdurrahman An-Nahlawi, Op.cit., h. 254-259

Tidak ada komentar:

Posting Komentar