Sabtu, 04 Desember 2010

Metode Pendidikan dalam Hadis: Metode Keteladanan/Demonstrasi


Oleh: Bukhari Umar

Dalam mendidik para sahabat, Rasulullah saw. menggunakan metode antara lain keteladanan. Sehubungan dengan hal ini ditemukan banyak hadis. Sebagai contoh dapat dilihat dalam pengajaran kaifiyat salat, bacaan salat, kedisiplinan waktu pelaksanakan salat dan pembentukan ketekunan beribadah.
1. Metode Keteladanan/Demonstrasi dalam Pengajaran Kaifiyat Salat
Berkaitan dengan pengajaran kaifiyat salat ditemukan hadis riwayat Muslim dari Aisyah:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيمِ.[1] رواه مسلم
Aisyah berkata, "Rasulullah saw. memulai salat dengan takbir dan memulai bacaan dengan 'Al-hamd lillâh Rabb al-'âlamîn'. Bila rukuk, beliau tidak mendongakkan kepalanya dan tidak (pula) menundukkannya, tetapi di antara itu. Apabila bangkit dari rukuk, beliau tidak sujud sebelum berdiri betul-betul (lurus). Bila mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak sujud lagi hingga duduk betul-betul. Beliau membaca 'al-tahiyyat' di tiap-tiap dua rakaat, dan membentangkan kaki kirinya dan mendirikan kaki kanan. Beliau melarang ''uqbat al-syaithân ' (cara duduk syaitan yaitu menghamparkan dua tapak kaki dan duduk di atas dua tumitnya) dan melarang seseorang membentangkan dua lengannya (di bumi) sebagai bentangan binatang buas. Selanjutnya, beliau mengakhiri salatnya dengan salam.
Hadis dengan maksud yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad dari Aisyah[2].
Informasi yang terkandung dalam hadis-hadis di atas antara lain adalah Rasulullah saw. telah memperlihatkan kepada sahabat kaifiyat (cara-cara) melaksanakan salat serta urutannya. Kaifiyat tersebut antara lain adalah: memulai salat dengan takbir, melakukan ruku', bangkit dari ruku', sujud, duduk antara dua sujud, duduk sambil membaca tahiyat, dan akhirnya beliau menutup kegiatan salat dengan mengucapkan salam. Dengan demikian,  beliau telah menggunakan metode keteladanan (demontrasi).
Penggunaan metode demontrasi dalam pengajaran kaifiyat salat ini merupakan hal yang sangat tepat. Hal itu dapat dipahami karena kesesuaian metode dengan kompetensi yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik. Dalam melaksanakan salat, umat Islam diperintahkan agar mengikuti cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Agar umat dapat mengerjakan sebagaimana rasul, sudah seyogianya beliau memberikan contoh. Hal itu dilakukan agar sahabat mudah memahami dan tidak melakukan kesalahan.
2. Metode Keteladanan/Demonstrasi dalam Pengajaran Bacaan Salat
Sehubungan dengan penggunaan metode keteladanan dalam pengajaran bacaan salat ditemukakan hadis:
عَنْ أَبُى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً - قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ هُنَيَّةً - فَقُلْتُ بِأَبِى وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ « أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَد[3]ِ . رواه البخارى
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa biasanya Rasulullah saw. diam sejenak antara takbir dan bacaan – ia berkata aku kira ia mengatakan sesaat -  aku bertanya, " Dengan bapak dan ibuku wahai Rasulullah! apa yang Engkau baca dalam keheninganmu antara takbir dan bacaan (Al-Fatihah)? Beliau menjawab, "Aku membaca, 'Allâhumma bâ'id baynî wa bayn khathâyâ kamâ bâ'adt bayn al-masyriq wa al-maghrib. Allâhumma naqqinî min al-khathâya kamâ yunaqqa al-tsawb al-abyadh min al-danas. Allâhumma aghsilnî min khathâyâyâ bi al-mâ'i wa a-tsalj al-barad'. (Ya Allah! Jauhkan antara aku dan dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan Timur dari Barat, Ya Allah! Bersihkanlah aku dari dosa sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran, Ya Allah! Cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan air embun.

Hadis dengan pengertian yang sama juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah[4], Abi Dau dari Abi Hurairah[5], Al-Nasa'i dari Abi Hurairah[6], Ahmad dari Abi Hurairah[7]

Melalui hadis di atas dapat diketahui bahwa Rasulullah saw. telah meragakan bacaan doa iftitah di depan sahabatnya (dalam hal ini Abu Hurairah). Kendatipun bukan ini satu-satunya doa yang dibaca oleh Rasulullah saw. dalam iftitâh, namun yang jelas beliau telah menunjukkan dan meragakan bacaan tersebut. Selain menunjukkan waktu membaca, beliau juga telah memperdengarkan bacaan yang benar agar para sahabat dapat mengikutinya. Itu bearti bahwa Rasulullah saw. telah menggunakan metode keteladanan/ demonstrasi dalam mengajarkan bacaan salat.
Keteladanan Rasulullah saw. dalam mengajarakan kaifiyat dan bacaan salat, selain memperlihatkan dan memperdengarkan, juga meminta agar sahabat mengikuti praktek salat yang beliau laksanakan. Hal itu dapat dilihat dalam Hadis Riwayat Bukhari dan al-Darimi dari Abi Sulaiman Malik ibn al-Huwairis:
عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ[8]. رواه البخارى والدارمى
Abu Sualiman Malik ibn al-Huwayris berkata: Kami, beberapa orang pemuda sebaya  datang kepada Nabi saw., lalu kami menginap bersama beliau selama 20 malam. Beliau menduga bahwa kami telah merindukan keluarga dan menanyakan apa yang kami tinggalkan pada keluarga. Lalu, kami memberitahukannya kepada Nabi. Beliau adalah seorang yang halus perasaannya dan penyayang, lalu berkata: “Kembalilah kepada keluargamu! Ajarlah mereka, suruhlah mereka dan salatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya mengerjakan salat. Apabila waktu salat telah masuk, hendaklah salah seorang kamu mengumandangkan azan dan yang lebih senior hendaklah menjadi imam.
Informasi yang terkandung dalam hadis di atas antara lain adalah (1) ada sekelompok pemuda sebaya yang menginap di rumah Rasulullah saw. untuk belajar agama Islam, (2) mereka menginap selama 20 hari, (3) para pemuda melihat dan merasakan perlakuan Rasulullah saw. yang sangat baik, (4) Rasulullah saw. menyuruh para pemuda kembali kepada keluarga masing-masing untuk mengajarkan agama yang sudah beliau ajarkan, (5) Rasulullah saw. menyuruh mereka mengerjakan salat sebagaimana beliau sendiri telah mencontohkannya, (6) bila waktu salat telah masuk, Rasulullah saw. menyuruh mereka untuk mengumandangkan azan, dan (7) Rasulullah saw. menyuruh orang yang lebih senior untuk menjadi imam dalam salat berjamaah.
Dalam hadis ini, Rasulullah saw. memberikan penekanan pada peniruan/penyontohan cara mengerjakan salat sahabat kepada cara yang telah beliau perlihatkan sendiri. Itu berarti bahwa beliau sangat mengutamakan metode keteladan/demonstrasi.
3.      Metode Keteladanan dalam Kedisiplinan Waktu Pelaksanakan Salat
Ibadah salat fardu memiliki waktu tertentu.[9] Setiap muslim harus mengerjakan salat dimaksud dalam waktu yang telah ditentukan. Bila dikerjakan di luar waktu, maka salat tersebut dipandang tidak memenuhi persyaratan dan dianggap tidak sah. Oleh karena itu, ia belum dapat memenuhi kewajiban. Namun, ada orang yang terlambat menunaikan kewajiban ini karena berbagai hal, termasuk karena kesibukan dengan berbagai pekerjaan sehari-hari.
Rasulullah saw. telah memberikan keteladanan dalam hal mengerjakan salat segera setelah waktunya masuk. Beliau meninggalkan segala pekerjaannya ketika azan dikumandangkan. Informasi ini dapat dilihat dari hadis riwayat Bukhari, Al-Tirmizi,  Ahmad dari Aisyah:
عَنِ الأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ فِى أَهْلِهِ قَالَتْ كَانَ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ.[10] رواه البخارى
Al-Aswad meriwayatkan, "Aku bertanya kepada Aisyah, 'Bagaimana keadaan Rasulullah saw. bekerja? Aisyah menjawab: ketika beliau bekerja untuk urusan keluarganya, lalu masuk waktu salat, maka beliau langsung keluar (berhenti bekerja) lalu mengerjakan salat.
Hadis di atas menginformasikan bahwa (1) Rasulullah saw. ikut bekerja mengurus keluarganya,[11]Dengan demikian,  beliau telah memberikan keteladan bahwa pekerjaan rumah tangga tidak boleh menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengerjakan salat pada awal waktu. dan (2) ketika waktu salat telah masuk, beliau langsung meninggalkan pekerjaannya untuk mendirikan salat.
4.      Metode Keteladanan dalam Membentuk Ketekunan Mendirikan Salat
Salat adalah  ibadah yang harus dilaksanakan dengan tekun dan terus menerus. Ia tidak boleh dilakukan bagaikan kedatangan air banjir, yaitu ketika bersemangat, salat dilakukan dengan banyak dan baik, tetapi bila kurang semangat, pelaksanaan salat mengalami penurunan bahkan tertinggal. Rasulullah saw. telah memberikan keteladanan dalam mendirikan salat termasuk salat malam (tahajjud). Sehubungan dengan ini terdapat hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah, Al-Tirmizi, Al-Nasa'I, Ahmad,  dari Al-Mughirah ibn Syu'bah:
عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا. فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ ، فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ.[12] رواه البخارى
Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. mendirikan salat pada waktu malam sehingga bengkak kedua kakinya lalu Aisyah bertanya, "Ya Rasulullah! Mengapa Anda melakukan (salat) sampai seperti ini? Padahal, Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Rasulullah saw. menjawab, "Apakah aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur?" Ketika badannya gemuk, beliau salat sedang duduk.
Di antara informasi yang terkandung dalam hadis-hadis di atas adalah bahwa Rasulullah saw. telah memperlihatkan kesungguhannya dalam mendirikan salat malam (tahajjud) di depan sahabat (Aisyah). Kesungguhan beliau beribadah tidak berkurang karena adanya berita gembira (informasi) bahwa beliau telah diampuni oleh Allah SWT. Beliau telah memberikan keteladanan bagaimana cara mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Dari hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah saw. telah mendidik umat (sahabat)nya mendirikan salat dengan metode keteladanan. Beliau menggunakan metode ini tentu dengan pertimbangan yang matang. Untuk semua aspek pendidikan salat, metode keteladanan ini dipandang sebagai suatu metode yang efektif. Pandangan ini didukung oleh teori pendidikan modern.
Menurut Linda dan Richard Eyre, contoh selalu menjadi guru yang baik dan yang diperbuat seseorang dapat berdampak luas, lebih jelas dan lebih berpengaruh daripada yang dikatakan.[13] Hal itu mudah dipahami mengingat kecenderungan meniru yang ada pada setiap manusia, bukan saja pada anak-anak melainkan juga orang dewasa. Perbedaannya adalah dalam intensitasnya. Orang dewasa meniru sambil menyeleksi dan memodifikasi seperlunya. Lain halnya dengan anak-anak. Menurut Ramayulis, dalam segala hal, anak merupakan peniru yang ulung. Sifat peniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan keagamaan pada anak[14]. Senada dengan pendapat itu, Imam Bawani mengemukakan bahwa anak-anak pada usia tertentu cenderung meniru dan mengambil alih apa saja yang ada, tanpa mengetahui manfaat dan mudaratnya[15].
Manusia banyak belajar tentang berbagai kebiasaan dan tingkah laku melalaui proses peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Ia mulai belajar bahasa dengan meniru kedua orang tua dan saudara-saudaranya dengan mengucapkan kata-kata secara berulang kali. Tanpa terbiasa mendengar orang mengucapkan suatu kata, manusia tidak bisa berbahasa lisan.
Dalam mengerjakan salat, kadang-kadang Rasulullah saw. memberikan ketegasan bahwa sahabat harus mengikutinya. Di lain waktu, beliau memberikan keteladanan tanpa perintah untuk mengikutinya. Dalam kajian pedagogi, yang pertama disebut 'keteladanan sengaja' sedangkan yang kedua disebut 'keteladanan yang tidak sengaja'. Keduanya digunakan oleh Rasulullah.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah di atas didukung oleh teori pendidikan saat ini sebagaimana dikemukakan oleh Ahmad Tafsir. Menurutnya, keteladanan itu ada dua macam, yaitu sengaja dan tidak sengaja. Keteladanan yang disengaja adalah keadaan yang sengaja diadakan oleh pendidik agar diikuti atau ditiru oleh peserta didik, seperti memberikan contoh membaca yang baik dan mengerjakan salat dengan benar. Keteladanan ini disertai penjelasan atau perintah agar diikuti. Keteladanan yang tidak disengaja adalah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat keikhlasan dan sebagainya. Dalam pendidikan Islam, kedua macam keteladanan tersebut sama pentingnya.[16] Keteladanan yang tidak disengaja dilakukan secara informal, sedangkan yang disengaja dilakukan dengan formal. Keteladanan yang dilakukan secara informal itu kadang-kadang lebih efektif daripada yang formal.
Efektivitas metode keteladanan itu juga diakui oleh Muhammad Qutb. Menurutnya, keteladanan merupakan teknik pendidikan yang efektif dan sukses.[17] Hal itu berlaku terutama bagi anak-anak usia sekolah. Hal itu disebabkan oleh ketertarikan dan kesenangan anak. Anak-anak pada masa usia sekolah tertarik dan senang dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang mereka lihat dikerjakan oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka.
Perlu juga dikemukakan bahwa efektivitas penggunaan keteladanan sebagai alat pendidikan tidak berlaku untuk semua aspek pendidikan Islam. Keteladanan efektif untuk aspek-aspek pendidikan yang bertujuan membentuk sikap dan keterampilan tertentu. Keterampilan dapat berbentuk mengerjakan suatu perbuatan atau melafalkan ucapan-ucapan tertentu. Dalam pemberian pengetahuan-pengetahuan yang tidak aplikatif, penggunaan keteladanan dipandang tidak efektif, bahkan tidak dibutuhkan.
Bila dilihat berdasarkan jenis-jenis keteladanan, maka dapat dikatakan bahwa keteladanan Nabi dalam riwayat Abi Sulaman bin al-Huwairis di atas termasuk ke dalam keteladanan sengaja. Dalam hal ini, Rasulullah sengaja memperlihatkan cara pelaksanaan salat agar dicontoh oleh istrinya dan memerintahkan kepada para sahabat agar mencontoh beliau.
Kemampuan melaksanakan ibadah salat merupakan suatu keterampilan. Ia harus diajarkan, dilatihkan, dan dibimbingkan dengan keteladanan. Penggunaan alat-alat pendidikan yang lain hanya akan efektif untuk mengajarkan hal-hal yang bersifat informasi tentang salat, syarat-syarat, jumlah, fadilah, waktu-waktu dan hikmah-hikmahnya. Semua informasi ini belum cukup bagi peserta didik sebelum ia mampu melaksanakannya. Oleh sebab itu, keteladanan sangat urgen dalam pendidikan salat.


[1]Muslim, Op.cit., Juz 1, h. 357
[2]Abû, Op.cit., juz 1, h. 209; Ahmad ibn Hanbal, Op.cit., Juz 6, h. 21 dan 164
[3]Al-Bukhâriy, Op.cit., juz 1,  h. 292
[4]Muslim, Op.cit., h. 419
[5]Abû Dâwûd, Op.cit., 207
[6]Al-Imâm a-Hafizh Abdurrahmân Ahmad ibn Syu'aib Ali al-Nasâ'iy, Sunan al-Nasâ'iy, juz 2, (Beirut: Dâr al-Kutub al-'Ilmiyah, t.th.), h. 91
[7]Ahmad ibn Hanbal, Op.cit., juz 2, h. 494
[8]Al-Bukhâriy, Op.cit., juz 4, h. 2436; Al-Dârimî, Op.cit.,, juz 1, h. 286
[9]Lihat QS. Surat Al-Nisa'/4: 103
[10]Al-Bukhârîy, Op.cit., juz 1, h. 265; juz 3, h. 2218; Al-Tirmiziy, Op.cit., juz 4, h. 66; Ahmad ibn Hanbal, op.cit. juz 6, h. 126
[11]Muhammad Ali Shabban mengemukakan bahwa Nabi SAW. melobangi sendiri sandalnya, menambal sendiri bajunya, memeras sendiri susu kambingnya dan melayani keluarganya. Muhammad Ali Shabban,  Teladan Suci Keluarga Nabi Akhlak dan Keajaibannya, , judul asli "Is’af a1-Râghibîn fî  Sifât al-Mustafã wa Fadãil Ahl Baytih al-Thâhirîn",  Terjemahan Idrus H. Alkaf, (Bandung: al-Bayan, 1994), Cet. ke-4, h. 47
[12]Al-Bukhâriy, Op.cit., juz 3, h. 1988; Al-Tirmiziy, Op.cit., juz 1, h. 257; Al-Nasâ'iy, Op.cit., juz 3, h. 242, dalam Al-Maktabah al-Syâmilah;  Ahmad ibn Hanbal, op.cit., juz 4, h. 251; dan Muslim, Op.cit., juz 4, h. 2171
[13]Linda dan Richard Eyre, Mengajar Nilai-nilai kepada Anak, Judul Asli “Teaching Your Children Values”, Terjemahan Alex Tri Kantjono Widodo, , (Jakarta: Gramedia, 1995), h. 29
[14]Lihat, Jalaluddin dan Ramayulis, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 1989), h. 30
[15]Imam Bawani, Ilmu Jiwa Perkembangan dalam Konteks Pendidikan Islam, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990), h. 103
[16]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 143
[17]Muhammad Qutb,  Sistem Pendidikan Islam, Penerjemah Salman Harun, (Bandung: Al-Maarif, 1984), h. 325

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar