Rabu, 18 Juli 2012

Pendidikan Islam: Pengertian Tarbiyah, Ta'lim dan Ta'dib


Oleh: Bukhari Umar

Abdurrahman al-Nahlawi mengemukakan bahwa menurut Kamus Bahasa Arab, lafal al-Tarbiyah berasal dan tiga kata, yaitu: 

Pertama: raba yarbu yang berarti bertambah dan bertumbuh. Makna ini dapat dilihat dan firman Allah: 

َمَا آَتَيْتُمْ ومِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ  
 “Dan suatu riba (tambahan) yang kalian berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah “. (QS Al-Rum: 39).
Kedua: rabiya yarba dengan wazan (bentuk) khafiya yakhfa yang berarti: menjadi besar. Atas dasar makna inilah Ibn aI-’Arabi mengatakan:
فَمَنْ يَكُ سَائِلاً عَنِّى فَإِنىِّ بِمَكَّةَ مَنْزِلِى وَبِهَا رُبِيْتُ
"Jika orang bertanya tentang diriku, maka Mekah adalah tempat tinggalku dan di situlah aku dibesarkan".
Ketiga: rabba yarubbu dengan wazan (bentuk) madda yamuddu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara. Makna ini antara lain ditunjukkan oleh perkataan Hasan bin Tsabit, sebagaimana yang ditulis oleh Ibn al-Manzhur dalam “lisan al-‘Arab:
وَلاَنْت أَحْسَنُ إِذْ بَذَرْتَ لَنَا    يَوْمَ الخْرُوُْجُ بِسَاحَةِ الْقَصْرِ
مِنْ ذُرَّيَةِ بَيْضَآءِ صَافِيَةٍ     مِمَّا تَرَبَّبَ جَائِرَةُ الْبَحْرِ
"Sesungguhnya ketika engkau tampak pada hari ke luar di halaman istina, engkau lebih baik daripada sebutir mutiara putih bersih yang dipelihara oleh kumpulan air di laut’ ".
Kata Ibn al-Manzhur. “Rababtul amra-arubbuhu rabban wa rababan, berarti aku memperbaiki dan mengokohkan perkara itu (Al-Nahlawi, 1989: 31).
Kata “tarbiyah” merupakan masdar dan rabba, yurabbiy, tarbiyat dengan wazan fa‘ala, yufa‘ilu, taf'ilan”. Kata ini ditemukan dalam Alquran Surat Al-Isra’/17:24 yang terjemahannya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil “.
Dalam terjemahan ayat di atas, kata tarbiyah digunakan untuk mengungkapkan pekerjaan orang tua yang mengasuh anaknya sewaktu kecil. Pengasuhan itu meliputi pekerjaan: memberi makanan, minuman. pengobatan, memandikan, menidurkan dan kebutuhan lainnya sebagai bayi. Semua itu dilakukan dengan rasa kasih sayang.
Beberapa pengkaji telah menyusun definisi pendidikan dari ketiga asal kata ini: Imam al-Baidawi (wafat: 685), dalam tafsirnya “Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta ‘wil “, mengatakan makna asal al-Rabb adalah al-Tarbiyah yaitu: menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit hingga sempurna. Kemudian kata itu dijadikan sifat Allah Swt. sebagai mubalaghah (penekanan).
Dalam buku mufradat, al-Raghib al-Ashfahani (wafat: 502 H), menyatakan bahwa makna asal al-Rab adalah al-Tarbiyah, yaitu: memelihara sesuatu sedikit demi sedikit hingga sempurna (Al-Ashfahani, 1992:336).
Dari ketiga asal kata di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat unsur:
(1). Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang balig.
(2). Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam
(3). Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi anak menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya.
(4).   Proses ini dilaksanakan secara bertahap.
B. Pengertian Ta'lim
Pengertian ta’lim sebagai suatu istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pendidikan dikemukakan oleh para ahli, antara lain dapat dilihat sebagai berikut:
(1). Abdul Fatah Jalal mengemukakan bahwa Ta'lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman. pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga terjadi penyucian (tazkiyah) atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran yang menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya. (Jalal, 1977: 17)
Berdasarkan pengertian ini dipahami bahwa dari segi peserta didik yang menjadi sasarannya, lingkup term al-ta'lim lebih universal dibandingkan dengan lingkup term al-tarbiyah karena al-ta‘lim mencakup fase bayi. anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa. Sedangkan al-tarbiyah khusus diperuntukan untuk pendidikan dan pengajaran fase bayi dan anak-anak.
(2). Muhammad Rasyid Rida memberikan definisi ta'lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu, (Rida, 1373 H: 262). Penta’rifan itu herpijak dari firman Allah Swt. surat Al-Baqarah ayat 31 tentang ‘allama Tuhan kepada Nabi Adam as. sedangkan proses transmisi itu dilakukan secara bertahap sebagaimana Nabi Adam menyaksikan dan menganalisis asma yang diajarkan oleh Allah kepadanya. (Al Atas, 1988: 66).
(3). Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas memberikan makna al-ta'lim dengan pengajaran tanpa pengenalan secara mendasar. Namun apabila al-ta‘lim disinonimkan dengan al-tarbiyah, al-ta'lim mempunyai makna pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem, (Alatas, 1988: 66).
Dalam pandangan Naquib, ada konotasi tertentu yang dapat membedakan antara term al-tarbiyah dari al-ta‘lim, yaitu ruang lingkup al-ta'lim lebih universal daripada ruang lingkup al-tarbiyah sebab, al-tarbiyah tidak mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu pada kondisi eksistensial. Lagi pula, makna al-tarbiyah lebih spesifik karena ditujukan pada objek-objek pemilikan yang berkaitan dengan jenis relasional, mengingat pemilikan yang sebenarnya hanyalah Allah. Akibatnya, sasarannya tidak hanya berlaku bagi umat manusia tetapi tercakup juga spesies-spesies yang lain.
(4). Muhammad Athiyah al-Abrasy mengemukakan pengertian al-ta'lim yang berbeda dari pendapat-pendapat di atas. Beliau menyatakan bahwa al-ta'lim lebih khusus daripada al-tarbiyah karena al-ta'lim hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu kepada aspek-aspek tertentu saja, sedangkan al-tarbiyah mencakup keseluruhan aspek-aspek pendidikan. (Al-Abrasyi, t.th, :7).
Al-ta'lim merupakan bagian kecil dari al-tarbiyah al-aqliyah yang bertujuan memperoleh pengetahuan dan keahlian berpikir, yang sifatnya mengacu pada domain kognitif. Hal ini dapat dipahami dari pemakaian kata ‘allama dalam surat Al-Baqarah, 2:31. Kata ‘allama dikaitkan dengan kata ‘aradha yang berimplikasikan bahwa proses pengajaran Adam tersebut pada akhirnya diakhiri dengan tahap evaluasi. Konotasi konteks kalimat itu mengacu pada evaluasi domain kognitif, yaitu penyebutan nama-nama benda yang diajarkan, belum pada tingkat domain yang lain. Hal ini memberi isyarat bahwa al-ta'lim sebagai masdar dari ‘allama hanya bersifat khusus dibanding dengan al-tarbiyah.
C. Pengertian Ta ‘dib
Muhammad Nadi al-Badri, sebagaimana dikutip oleh Ramayulis, mengemukakan bahwa pada zaman klasik, orang hanya mengenal kata ta‘dib untuk menunjukkan kegiatan pendidikan. Pengertian seperti ini terus terpakai sepanjang masa kejayaan Islam, hingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal manusia waktu itu disebut adab, baik yang berhubungan langsung dengan Islam seperti: fiqh, tafsir, tauhid, ilmu bahasa Arab dan sebagainya maupun yang tidak berhubungan langsung seperti ilmu fisika, filasafat, astronomi, kedokteran, farmasi dan lain-lain. Semua buku yang memuat ilmu tersebut dinamai kutub al-adab. Dengan demikian terkenallah al-Adab al-Kabir dan al-Adab al-Shaghir yang ditulis oleh Ibn al-Muqaffa (w. 760 M). Seorang pendidik pada waktu itu disebut Mu‘addib. (Ramayulis, 1991: 6).
Ta‘dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya. (Attas: 66). Pengertian ini berdasarkan Hadis Nabi Saw.:
أَدَّبَنِى رَبِّى فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِى
"Tuhanku telah mendidikku dan telah membaguskan pendidikanku".
Dalam struktur telaah konseptualnya, ta‘dib  sudah mencakup unsur-unsur pengetahuan (‘ilm), pengajaran (ta'lim), dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). (Attas: 74-75). Dengan demikian,  ta'dib lebih lengkap sebagai term yang mendeskripsikan proses pendidikan Islam yang sesungguhnya. Dengan proses ini diharapkan lahir insan-insan yang memiliki integritas kepribadian yang utuh dan lengkap.

Daftar Bacaan:
Al-Nahlawi, Abdurrahman, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, Terjemahan Herry Noor Ali, Judul Asli “Ushul al-Tarbiyat al-Islamiyah wa Asalibuha”, Bandung: Diponegoro, 1989
Al-Ashfahaniy, Al-Raghib, al-Mufradat Alfāz al-Qur’ān, Beirut, ad-Dar asy-Syamiyah, tth.
Abd al-Fatah Jalal, Min al-Ushul al-Tarbawiyyah fi al-Islam, Mesir:
Dar al-Kutub al-Mushriyyah, 1977
Rida, Muhammad Rasyid, Tafsir al-Quran al-Hakim; Tafsir al-Manar, Juz VII, Beirut, Dar al-Fikr, tt.
Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah, al-Tarbiyyah al-Islāmiyah wa Falāsifatuhā, Mishr: Isa al-Babiy al-halabiy wa Syurakah, t.th.
Al-Attas, Muhammad Naquib,  Konsep Pendidikan dalam Islam, Bandung: Mizan, 1992
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 1994


Pendidikan Islam: Pengertian


Oleh: Bukhari Umar

Prof. Dr. Omar Mohammad al-Toumi al-Syaibany mendefinisikan pendidikan Islam dengan “Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat (Al-Syaibany, 1979: 399).
Pengertian tersebut memfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada pendidikan etika. Selain itu, pengertian tersebut menekankan pada aspek-aspek produktivitas dan kreativitas manusia dalam peran dan profesinya dalam kehidupan dalam masyarakat dan alam semesta.
Dr. Muhammad SA Ibrahimy (Bangladesh) mengemukakan pengertian pendidikan Islam sebagai “Islamic education in true sense of the lerm, is a system of education which enables a man to lead his  life according to the islamic ideology, so that he may easily mould his life in accordance with tenetn of Islam”. (Arifin, 1991, 34), “Pendidikan dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam”.
Pengertian itu mengacu pada perkembangan kehidupan manusia masa depan tanpa menghilangkan prinsip-prinsip islami yang diamanatkan oleh Allah kepada manusia, sehingga manusia mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupnya seiring dengan perkembangan iptek.
Dr. Muhammad Fadhil al-Jamali memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai “Upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak manusia lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan. (Al-Jamali, 1986: 3).
Defenisi tersebut mempunyai tiga prinsip Pendidikan Islam yaitu:
(1). Pendidikan merupakan proses perbantuan  pencapaian tingkat keimanan dan berilmu (Q.S. 58: 11) yang disertai dengan amal saleh (QS. 67:4).
(2). Sebagai model,  maka Rasulullah Saw.  sebagai    uswatun hasanah (QS. 33: 21) yang dijamin Allah memiliki akhlak yang mulia (QS. 68: 4).
(3). Pada manusia terdapat potensi baik dan buruk (QS. 91: 7- 8), potensi negatif seperti lemah (QS. 4: 28), tergesa-gesa (QS. 21:37), berkeluh kesah (QS. 70: 19), dan ruh Allah ditiupkan kepadanya pada saat penyempurnaan penciptaannya (QS. 95: 4). Oleh karena itu, pendidikan ditujukan sebagai pembangkit potensi baik yang ada pada anak didik dan mengurangi potensinya yang jelek. (Rahmat, 1991: 115).
Dalam seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960 didapatkan pengertian pendidikan Islam, yaitu: “Bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah, mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam”. Pengertian ini mengandung arti bahwa dalam proses pendidikan Islam terdapat usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat demi setingkat menuju tujuan yang ditetapkan yaitu menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran, sehingga terbentuklah manusia yang berkepribadian dan berbudi luhur sesuai dengan ajaran Islam. (Arifin, 1987: 13 14).
Dari beberapa pengertian di atas dikatakan bahwa pendidikan Islam itu adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Pengertian tersebut mempunyai lima prinsip pokok, yaitu:
(1). Proses transformasi dan internalisasi, yaitu upaya pendidikan Islam harus dilakukan secara bertahap, berjenjang, dan kontinu dengan upaya pemindahan, penanaman, pengarahan, pengajaran, pembimbingan sesuatu yang dilakukan secara terencana, sistematis dan terstruktur dengan menggunakan pola dan sistem tertentu.
(2). Ilmu pengetahuan dan nilai-nilai, yaitu upaya yang diarahkan pada pemberian dan penghayatan, serta pengamalan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.
Ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang bercirikan islami, yakni ilmu pengetahuan yang memenuhi kriteria epistemologi islami yang tujuan akhimya hanya untuk mengenal dan menyadari diri pribadi dan relasinya dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.
Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai Ilahi dan nilai-nilai insani. Nilai Ilahi mempunyai dua jalur, yaitu: (1) Nilai yang bersumber dari sifat-sifat Allah yang tertuang dalam “al-Asma al-Husna” sebanyak 99 nama yang indah. Nama-nama itu pada hakikatnya telah menyatu pada potensi dasar manusia yang selanjutnya disebut fitrah, (2) Nilai yang bersumber dari hukum-hukum Allah, baik berupa hukum yang linguistik-verbal (qurani) maupun yang verbal (kauni).
Sebaliknya, nilai insani merupakan nilai yang terpancar dari daya cipta, rasa, dan karsa manusia yang tumbuh untuk memenuhi kebutuhan peradaban manusia, yang memiliki sifat dinamis temporer.
(3). Pada diri anak didik, yaitu pendidikan itu diberikan pada anak didik yang mempunyai potensi-potensi rohani. Dengan potensi itu, anak didik dimungkinkan dapat dididik, sehingga pada akhirnya, mereka dapat mendidik. Konsep ini berpijak pada konsepsi manusia sebagai makhluk psikis.
(4). Melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya, yaitu tugas pokok pendidikan Islam hanyalah menumbuhkan, mengembangkan, memelihara, dan menjaga potensi laten manusia agar ia tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan, minat dan bakatnya. Dengan demikian terciptalah dan terbentuklah daya kreativitas dan produktivitas anak didik.
(5). Guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya, yaitu tujuan akhir dari proses pendidikan Islam adalah terbentuknya “Insan Kamil”, yaitu manusia yang dapat menyelaraskan kebutuhan hidup jasmani-rohani, struktur kehidupan dunia-akhirat, keseimbangan pelaksanaan fungsi manusia sebagai hamba-khalifah Allah dan keseimbangan pelaksanaan trilogi hubungan manusia. Akibatnya, proses pendidikan Islam yang dilakukan dapat menjadikan anak didik hidup penuh bahagia, sejahtera, dan penuh kesempurnaan.
Selain untuk mendapatkan informasi, kita juga dapat memperoleh peluang usaha yang menguntungkan di internet. Peluang ini tidak boleh kita abaikan karena sambil browsing dan facebookan, kita bisa mendapatkan uang. Penjelasannya dapat dilihat di SINI.



Daftar Bacaan:
Al-Syaibany, Omar Mohammad al-Toumy (1979), Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, judul asli “Falsafah al-Tabiyah al-Islamiyah, Jakarta: Bulan Bintang
Al-Jamali, Muhammad Fadhil (1986), Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur'an, terj. Judial Falasani, Surabaya
Arifin, HM, (1991), Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta: Bumi Aksara
Rahmat, Jalaluddin (1991), Islam Alternatif,  Bandung: Mizan,

Minggu, 15 Juli 2012

Pengaruh Lingkungan terhadap Peserta didik

Oleh: Bukhari Umar

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia (peserta didik). Ia dapat berupa manusia dan dapat pula berupa bukan manusia seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, sungai, laut, udara dan sebagainya. Bahkan, selain itu ada pula sesuatu yang berada di luar diri manusia yang tidak tampak oleh manusia (gaib), tetapi keberadaannya pasti. Hal ini dapat diketahui melalui informasi dari kitab suci (Alquran). Golongan ini meliputi jin dan malaikat.
Di antara lingkungan tersebut, ada yang memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan peserta didik, yaitu: lingkungan keluarga (orang tua), teman dan setan. Ketiga lingkungan ini sering mewarnai kehidupan peserta didik. Hal ini perlu diketahui oleh pendidik agar dapat menentukan sikap dan bertindak sesuai dengan kebutuhan pendidikan. Di sini akan dibicarakan pengaruh lingkungan keluarga (orang tua), teman dan syetan terhadap perkembangan peserta didik.
1. Pengaruh Lingkungan Keluarga
Orang tua adalah orang yang paling berpeluang mempengaruhi peserta didik. Hal itu dimungkinkan karena merekalah yang paling awal bergaul dengan anaknya, paling dekat dalam berkomunikasi, dan paling banyak menyediakan waktu untuk anak terutama ketika ia masih kecil. Tidak sulit dipahami bila orang tua memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan anaknya.
Peluang besar mempengaruhi anak seperti di atas perlu dimanfaatkan oleh setiap orang tua secara maksimal. Ia harus menciptakan kondisi yang kondusif agar semua potensi anak dapat berkembang optimal. Bila orang tua tidak mendidik anaknya atau melaksanakan pendidikan anak tidak dengan sungguh-sungguh, maka akibatnya anak tidak akan berkembang sesuai dengan harapan. Bahkan, potensi anak yang paling asasi (fitrah diniyah) dapat bergeser. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadisnya:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيْمَةَ ، هَلْ تَرَى فِيْهَا جَدْعَاءَ
Setiap anak dilahirkan menurut fitrah (potensi beragama Islam). Selanjutnya, kedua orang tuanyalah yang membelokkannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi bagaikan binatang melahirkan binatang, apakah kamu melihat kekurangan padanya? (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
Kata-kata abawāh yang berarti kedua orang tua dalam hadis di atas tidak berarti menafikan pengaruh pihak lain. Dalam kenyataannya, masih banyak komponen lingkungan yang dapat mempengaruhinya. Disebut kedua orang tua untuk mewakili lingkungan dapat dipahami karena dominasi peran dan pengaruh orang tua terhadap perkembangan anak.
Kata yuhawwidānih dalam hadis di atas berarti kedua orang tua mengajar dan menggiringnya menjadi orang Yahudi. Kata-kata “yunaşşirānih” berarti bahwa kedua orang tua pula yang mengajar dan menggiring anak menjadi Nasrani (Al-Asqalani, 1993: 619). Dengan demikian, terlihatlah betapa pentingnya peran keluarga atau orang tua dalam perkembangan anak. Orang tua harus melaksanakan proses pendidikan terhadap anak-anak dan begitu juga anggota keluarga yang lain. Pendidikan yang dilaksanakan harus sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, yang disebut pendidikan Islam. Menurut Al-Djamaly, “Pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar) (Al-Jamaly, 1996: 17).
Selain orang tua, anggota keluarga yang tinggal setempat dengan seseorang juga mempunyai pengaruh yang besar. Mereka itu adalah suami/istri, saudara, nenek, kakek, paman, dan bibi. Besar atau kecilnya pengaruh masing-masing tergantung kepada kadar komunikasi dan kualitas pengaruh yang diberikan kepada peserta didik.
2. Pengaruh Teman
Teman sangat berarti bagi setiap manusia. Dari anak-anak sampai orangtua, baik kali-laki maupun perempuan, baik yang kaya maupun yang miskin, baik orang-orang baik maupun orang-orang yang tidak baik, semuanya membutuhkan teman. Rasanya, kebahagiaan ini tidak lengkap bila tidak memiliki teman. Buktinya, ketika gembira, orang membutuhkan teman dan pada waktu sedih, orang juga membutuhkan sahabat.
Teman itu bervariasi. Kadang-kadang, teman membawa berkah, rezeki, dan kebahagiaan. Akan tetapi, perlu juga hati-hati karena banyak juga orang yang rusak bahkan sengsara karena teman. Dengan demikian, teman itu ada yang baik dan ada pula yang jelek. Teman yang baik inilah yang diidam-idamkan karena ia mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, teman yang jelek perlu dihindari karena sering membawa malapetaka.
Teman sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Ada orang yang jelek berubah menjadi baik setelah berteman dengan orang baik. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang pada awalnya baik, tetapi kemudian berubah menjadi jelek setelah bergaul dengan teman yang jelek. Ada orang tua yang telah berusaha membimbing anak di rumah dengan sebaik-baiknya, tetapi anak terpengaruh oleh temannya yang berperilaku jelek sehingga ia mempertunjukkan perilaku jelek di depan orang tua. Jangan kaget. Teman dapat mewarnai, bahkan dapat mengubah agama seorang anak. Hal itu telah diperingatkan oleh Rasulullah saw. :
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً.
Perumpamaan teman yang baik dan teman yang jelek bagaikan pemilik minyak wangi dan tukang besi. Terhadap pemilik minyak wangi, kamu dapat menikmati minyak wangi dengan cara membeli kepadanya atau minimal mencium aromanya yang bagus. Sedangkan terhadap tukang besi, mungkin badan atau pakaianmu terbakar atau kamu mencium bau yang tidak sedap. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Musa).
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ .
Seseorang itu mengikuti agama temannya. Oleh sebab itu, kamu harus hati-hati terhadap temanmu (HR Tirmizi dan Abu Daud dari Abu Hurairah).
3. Pengaruh Syetan
Dalam Alquran dikemukakan bahwa setan telah banyak menghancurkan kehidupan manusia, mulai dari manusia pertama sampai sekarang, bahkan sampai manusia di akhir zaman. Paling tidak terdapat 113 kata yang berarti setan dalam Alquran di antaranya adalah:
1. Menggoda Adam dan Hawa sehingga keduanya dikeluarkan dari sorga (QS Al-Baqarah/2: 36).
2. Musuh yang nyata bagi manusia (Al-Baqarah/2: 168).
3. Menyuruh manusia berbuat jahat dan keji (Al-Baqarah/2: 169)
4. Mengeluarkan manusia dari cahaya kepada kegelapan (Al-Baqarah/2: 257)
5. Menakut-nakuti manusia …. Ali Imran/3: 175).
6. Menyesatkan manusia sejauh-jauhnya (An-Nisak/: 60).
7. Mendorong manusia agar bermusuh-musuhan (Al-Maidah/: 91)
8. Membisikkan pikiran jahat kepada manusia (Al-A’raf/: 20)
9. Menipu manusia (Al-A’raf/: 27)
Dalam hadis juga ditemukan penjelasan tentang tipu daya setan terhadap manusia. Di antaranya dalam hadis qudsi berikut ini:
…وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى …
… Aku telah menciptakan hamba-Ku menjadi orang yang lurus semuanya. Akan tetapi syetan memalingkan mereka dari agamanya, mengharamkan apa yang Aku halalkan dan menyuruh mereka mempersyerikatkan-Ku…( HR Muslim, Ahmad, Nasa’i dari ‘Iyad).
Agar terpelihara dari gangguan setan, manusia diperintahkan agar selalu mendekatkan diri dan memohon pertolongan Allah (Al-A’raf/: 200, Al-Falaq/113: 1- 5, An-Nas/114: 1- 6).
Selain pengaruh ketiga lingkungan di atas, ada pula lingkungan bukan manusia yang juga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan peserta didik, yaitu media yang berwujud berbagai bentuk, seperti: televisi, video, computer, internet, dan handphone. Media-media ini telah membuat wawasan anak-anak dan remaja berkembang lebih cepat dari pada masa sebelumnya. Namun, perubahan yang terlihat dalam realita masyarakat di samping yang positif, yang negatifnya juga cukup besar. Akibatnya, para orang tua merasakan mendidik anak zaman sekarang sudah sangat sulit dan melelahkan.
Anak-anak dan remaja sangat tertarik kepada berbagai permainan (games) dan hiburan (entertainment) yang disajikan oleh media di atas. Bahkan, peserta didik tidak segan-segan menghabiskan sebagian besar waktu efektifnya untuk pergi ke mall, warnet, dan playstation untuk menikmati permainan kesukaan mereka. Hal itu menyebabkan penambahan cost (biaya ekonomi) keluarga dan berkurangnya waktu belajar bagi peserta didik. Akhirnya mau atau tidak mau, akan terjadi penurunan kulitas akademik peserta didik. Ini merupakan masalah yang sangat serius.
Untuk menghadapi masalah di atas diperlukan upaya yang sangat serius pula. Semua komponen masyarakat terkait yang meliputi orang tua, pemilik warnet, pemilik stasion televisi, pengelola mall, dan playstation seyogianya peduli dengan perkembangan anak dan remaja. Program-program yang disajikan harus diseleksi sedemikian rupa, jadwal operasi yang juga dipertimbangkan agar anak dan remaja tidak larut menikmatinya sehingga melupakan pelajaran, kewajiban dan tugas-tugas lainnya.
Selain sumber informasi, jadikan internet sebagai sarana mendapatkan penghasilan. Mau tahu caranya? Tidak sulit. Silahkan KLIK DI SINI.