Sabtu, 04 Desember 2010

Pendidik dalam Perspektif Hadis: Sifat-sifat Pendidik



Oleh: Bukhari Umar

1. Sifat Lemah Lembut dan Kasih Sayang
عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ.[1] رواه البخارى
Abu Sualiman Malik ibn al-Huwayris berkata: Kami, beberapa orang pemuda sebaya  datang kepada Nabi saw., lalu kami menginap bersama beliau selama 20 malam. Beliau menduga bahwa kami telah merindukan keluarga dan menanyakan apa yang kami tinggalkan pada keluarga. Lalu, kami memberitahukannya kepada Nabi. Beliau adalah seorang yang halus perasaannya dan penyayang lalu berkata: “Kembalilah kepada keluargamu! Ajarlah mereka, suruhlah mereka dan salatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya mengerjakan salat. Apabila waktu salat telah masuk, hendaklah salah seorang kamu mengumandangkan azan dan yang lebih senior hendaklah menjadi imam.
Di antara informasi yang dapat dari hadis di atas adalah  (1). Ada sekelompok pemuda sebaya datang dan menginap di rumah Rasulullah SAW., (2). Pemuda itu belajar masalah agama (ibadah) kepada Rasulullah SAW. , (3). Rasulullah SAW. telah memperlakukan mereka dengan santun dan kasih sayang, (4). Rasulullah SAW. menyuruh mereka mengajarkan salat kepada keluarga masing-masing seperti beliau mengajar mereka. Di antara informasi tersebut, yang berkaitan erat dengan sub tema ini adalah beliau memperlakukan para sahabat tersebut dengan santun dan kasih sayang.
Pendidik yang mampu bersikap santun kepada peserta didiknya sesuai dengan tuntutan Allah dalam Alquran, sebagaimana terdapat dalam ayat-Nya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran/3: 159).
Ahmad musthafa Al-Maraghi menjelaskan, andaikata engkau (Muhammad) bersikap kasar dan galak dalam muamalah dengan mereka (kaum muslimin), niscaya mereka akan bercerai (bubar) meninggalkan engkau dan tidak menyenangimu. Sehingga engkau tidak bisa menyampaikan hidayah dan bimbingan kepada mereka ke jalan yang lurus. [2] Berdasarkan tafsir ini, seorang pendidik harus memiliki rasa santun kepada setiap peserta didiknya dalam proses pendidikan. Bila tidak, maka kekasaran itu akan menjadi penghalang baginya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Sejalan dengan itu, Rasulullah SAW. menyampaikan secara lebih tegas agar umatnya (termasuk pendidik) agar memiliki rasa kasih sayang sebagaimana terlihat dalam hadis di atas.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ. رواه الترمذى
Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil, tidak memuliakan yang lebih besar, tidak menyuruh berbuat makruf, dan tidak mencegah perbuatan munkar.

Kandungan hadis ini umum, termasuk semua umat Islam, umat Nabi Muhammad SAW. juga pendidik. Pendidik harus memiliki sifat kasih sayang kepada peserta didiknya agar mereka dapat menerima pendidikan dan pengajaran dengan hati yang senang dan nyaman. Segala proses edukatif yang dialkukan oleh pendidik harus diwarnai oleh sifat kasih sayang ini.
2.      Mengembalikan Ilmu kepada Allah
Seorang pendidik harus memiliki sifat tawaduk, tidak merasa paling tahu atau serba tahu. Bila ada hal-hal yang tidak diketahui dengan jelas, ia sebaiknya mengembalikan persoalan itu kepada Allah. Sehubungan dengan hal ini terdapat hadis:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهم - قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنْ أَوْلاَدِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ « اللَّهُ إِذْ خَلَقَهُمْ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ[3]. رواه البخارى ومسلم
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang anak-anak orang yang musyrik. Lalu beliau menjawab: Allah Maha Mengetahui apa yang akan mereka kerjakan pada saat ia diciptakan.
Dalam hadis ini dinyatakan bahwa Rasulullah SAW. ditanya oleh sahabat tentang nasib anak-anak orang musyrik pada hari kiamat nanti. Beliau menjawab, "Allah lebih mengetahui" atau "Allah mengetahui" apa yang mereka lakukan. Di sini terlihat bahwa Rasulullah SAW. tidak selalu menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, kendatipun beliau adalah Rasulullah. Beliau tidak merasa risih dengan sikap tidak memberikan jawaban yang pasti. Itulah sesungguhnya sikap yang harus dimiliki oleh setiap pendidik. Bila ternyata ada hal yang diragukan atau belum diketahui sama sekali, jangan segan mengatakan "Allah Yang Mahatahu. Itu adalah salah satu bentuk sikap tawadhu' seorang hamba.
3.      Memperhatikan Keadaan Peserta Didik

Agar pendidikan dan pembelajaran dapat terlaksana dengan efektif, pendidik perlu memperhatikan keadaan peserta didiknya. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah minat, perhatian, kemampuan dan kondisi jasmani peserta didik. Pendidik jangan sampai memberikan beban belajar yang sangat memberatkan peserta didik. Sehubungan dengan ini terdapat hadis:
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا[4]. رواه البخارى
Dari Ibnu Mas'ud, Nabi SAW. selalu menyelingi hari-hari belajar untuk kami untuk menghindari kebosanan kami.
Dalam hadis ini terdapat informasi bahwa Rasulullah saw. mengajar sahabat tidak setiap hari, tetapi ada waktu belajar dan ada pula waktu istirahat. Hal itu dilakukannya untuk menghindari kebosanan kepada pelajaran. Itu berarti bahwa Rasulullah saw. memperhatikan kondisi para sahabat (peserta didik) dalam mengajar. Peserta didik membutuhkan selingan waktu untuk beristirahat.
Menurut Muhammad Utsman Najati, di antara temuan riset mutakhir dalam proses belajar ialah jadwal waktu belajar. Dengan kata lain, dalam proses belajar harus ada jenjang waktu untuk istirahat. Hal  ini  sangat penting dalam proses belajar yang tepat dan cepat. Dengan mengatur jadwal waktu belajar, pelajaran yang akan disampaikan berikutnya dapat dicerna dengan baik. [5]Oleh karenanya, prinsip belajar dengan membagi waktu belajar  ini  dapat menghilangkan rasa lelah dan bosan.
Sebelum para ahli kejiwaan modern menemukan prinsip  ini, sudah sejak empat belas abad yang silam Alquran telah mempraktekkan prinsip  ini . Prinsip  ini  ditandai dengan peristiwa diturunkannya Alquran secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Tujuannya ialah memberi ruang waktu yang dapat memungkinkan kaum muslim mudah menghafalkannya.
Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW juga mempraktekkan prinsip “pembagian waktu belajar”. Ini sebagai metode mendidik jiwa para sahabatnya dengan tujuan agar mereka tidak merasa bosan. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA. bahwa Nabi SAW dalam beberapa hari pernah memberi nasihat kepada kami sehingga perasaan benci dan bosan itu muncul pada diri kami  semua.”Abu Wail RA berkata: “Setiap hari Kamis, Abdullah memberi ceramah kepada sekelompok orang. Salah seorang di antara mereka berkata kepada beliau, Hai ayah Abdurrahman! Saya berharap engkau setiap hari memberi ceramah kepada kami.” Ia menjawab, “Aku tidak bisa setiap hari karena sesungguhnya aku tidak suka melihat kalian bosan. Aku memberi ceramah kepada kalian seperti Nabi SAW memberi peringatan kepada kami. Kami takut bila rasa bosan menimpa kami semua.[6]
Secara praktis, prinsip ini dilakukan Nabi SAW ketika menyuruh para sahabat mempelajari 10 ayat Alquran. Mereka tidak diperbolehkan mempelajari lebih dari itu kecuali setelah mereka benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran yang terkandung dalam ayat tersebut. Abdullah bin Mas’üd RA berkata: “ Kami belajar pada Nabi SAW 10 ayat Alquran, setelah itu kami tidak belajar ayat Alquran hingga kami benar-benar mendalami 10 ayat tersebut.” Ditanya oleh temannya, “Apakah karena mengamalkannya?” Ia menjawab: “Benar
عن عائشة قال قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلم: إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِيْ مُعْنِتاً وَلاَ مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِيْ مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا[7]. رواه مسلم
Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda kepada ‘Aisyah: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.”
4.      Berlaku dan Berkata Jujur
Seorang pendidik harus bersifat jujur kepada peserta didiknya sebagaimana yang dipertunjukkan oleh Nabi SAW. dalam hadis berikut:
عن عمر بن الخطاب ...  قاَلَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ قاَلَ ماَ المْسَؤُْوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّاِئلِ....[8] رواه البخارى ومسلم.
Umar ibn al-Khatthâb meriwayatkan: … Jibril berkata lagi, Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat! Rasulullah saw. menjawab: tentang masalah ini, saya tidak lebih tahu dari Anda. ...

Dalam hadis di atas dikatakan bahwa ketika Nabi SAW. ditanya oleh malaikat Jibril tentang hari kiamat, belia menjawab, saya tidak lebih tahu daripada Anda, saya sama-sama tidak tahu dengan Anda. Beliau tidak mentang-mentang Rasulullah, lalu menjawab semua yang ditanyakan kepadanya. Beliau tidak segan-segan mengatakan tidak tahu bila yang ditanyakan orang itu tidak diketahuinya. Inilah sifat yang harus dimiliki oleh setiap pendidik.
Seorang ilmuan, guru, dan pendidik harus bersifat jujur dan terbuka. Bila ditanya orang tentang suatu hal yang tidak diketahuinya, dia harus berani mengatakan tidak tahu. Jangan bergaya serba tahu. Jangan mengada-ada untuk menjaga gengsi keilmuan.







[1] Al-Bukhâriy, Op.cit., juz 4, h. 2436
[2] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op.cit., Jilid 2, Juz 4, h. 113
[3]Al-Bukhari, Op.cit., h. Juz 1, h. 532
[4]Ibid., h. 42
[5] Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Perspektif Hadis, Op.cit., h. 195
[6] Al-Bukhariy, op.cit., h. 43
[7] Muslim, Op.cit., Juz 2, h. 1104
[8] Muslim, Op.cit., Juz 1, h. 36; al-Bukhari, Op.cit., juz 1, h. 31-32; Abu Dawud, Op.cit., Juz 4, h. 223-224; An-Nasâ'iy, Op.cit., Juz 15, h. 281 (dalam al-Maktabah al-Syâmilah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar