Jumat, 20 Juli 2012

Fungsi Tujuan pendidikan


Oleh: Bukhari Umar
Tujuan pendidikan memiliki beberapa fungsi.  Menurut ahmad D. Marimba, fungsi tujuanØkegiatan pendidikan ada empat, yaitu: 1) Mengakhiri usaha. 2) Mengarahkan usaha. 3) Titik tolak untk mncapai tujuan-tujuan lain. 4) Memberi nilai pada usaha-usaha tersebut. (Marimba, 1962: 45-46).

1.    Tujuan berfungsi untuk mengakhiri usaha. Suatu usaha yang tidak mempunyai tujuan tidaklah mempunyai arti apa-apa. Selain itu usaha mengalami permulaan dan mengalami pula akhirnya. Ada usaha yang terhenti karena suatu kegagalan sebelum mencapai tujuan, tetapi usaha itu belum dapat dikatakan berakhir. Pada umumnya suatu usaha baru berakhir kalau tujuan akhir telah dicapai.
2.    Tujuan berfungsi mengarahkan usaha. Tanpa adanya antisipasi (pandangan ke depan) kepada tujuan, penyelewengan akan banyak terjadi dan kegiatan yang dilakukan tidak akan berjalan secara efesien.
3.    Tujuan dapat berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, yaitu tujuan-tujuan baru maupun tujuan lanjutan dari tujuan pertama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari satu segi tujuan itu membatasi ruang gerak usaha, namun dari segi lain tujuan tersebut dapat mempengaruhi dinamika usaha tersebut.
4.    Tujuan berfungsi memberi nilai (sifat) pada usaha itu. Ada usaha-usaha  yang tujuannya lebih luhur, lebih mulia, lebih luas daripada usaha-usaha lain. Hal ini menunjukkan bahwa dalam rumusan setiap tujuan selalu disertai dengan nilai-nilai yang hendak diusahakan perwujudannya. Nilai-nilai ini tentu saja bermacam-macam sesuai dengan pandangan yang merumuskannya. Jika yang merumuskan tujuan tersebut orang muslim yang taat dan luas wawasan keislamannya, tentu saja akan dimasukkan nilai-nilai yang sejalan  dengan ajaran Islam yang dianutnya. Dengan demikian suatu rumusan tujuan pendidikan, harus memiliki muatan subyektifitas dari yang merumuskannya, walaupun subyektifitas ini tidak selamanya berkonotasi negatif.
Dalam hubungannya dengan  fungsi keempat tujuan pendidikan tersebut di atas, yakni sebagai pemberi nilai terhadap suatu kegiatan, Langgulung  (1980: 178) memandang bahwa tujuan pendidikan Islam harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama yaitu; fungsi spiritual yang berkaitan dengan aqidah dan iman; fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individual termasuk nilai-nilai akhlak yang mengangkat derajat manusia ke derajat yang lebih sempurna; dan fungsi sosial yang berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan manusia lain atau masyarakat, dimana masing-masing menyadari hak-hak dan tanggung jawabnya untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang.
Uraian ini pada intinya menegaskan bahwa suatu rumusan tujuan pendidikan Islam, tidaklah bebas dibuat sekehendak yang menyusunnya, melainkan berpijak pada nilai-nilai yang digali dari ajaran Islam itu sendiri. Dengan cara demikian maka tujuan tersebut dapat memberi nilai terhadap kegiatan pendidikan.
Hubungan antara tujuan dan nilai-nilai amat berkaitan erat, karena tujuan pendidikan merupakan masalah nilai itu sendiri. Pendidikan mengandung pilihan bagi arah perkembangan murid-murid ke mana akan diarahkan, dan pengarahan itu sudah tentu berkaitan erat dengan nilai-nilai. Pilihan terhadap suatu tujuan mengandung unsur mengutamakan terhadap beberapa nilai atas yang lainnya. Nila-nilai yang dipilih sebagai pengarah dalam merumuskan tujuan pendidikan tersebut pada akhirnya akan menentukan corak masyarakat yang akan dibina malalui pendidikan itu (Al Syaibani 1979: 403). Dari berbagai uraian di atas, nampak bahwa tujuan pendidikan sangat penting untuk dirumuskan, sebelum kegiatan pendidikan dilaksanakan.



Daftar Bacaan:
D. Marimba, Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1986
Langgulung,Hasan, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Maarif, 1980
Syaibani, Omar Mohammad Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan Islam, Terjemahan Hasan Langgulung, Jakarta, Bulan Bintang, 1979


Jenis-jenis Tujuan Pendidikan


Oleh: Bukhari Umar
Tujuan pendidikan menurut Langeveld terdapat beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

1.Tujuan Umum
Tujuan umum ini sering disebut tujuan akhir, atau tujuan totalatau tujuan lengkap. Tujuan umum berarti tujuan total atau tujuan yang lengkap yaitutujuan yang pada akhirnya akan dicapai oleh pendidik terhadapanak didik yaitu terwujudnya kedewasaan jasmani dan rohani.(Barnadib, 1989)
Menurut Kohnstamm dan Gunning, tujuan akhir pendidikan ituialah membentuk insan kamil atau manusia sempurna. (Amir Daien,1973)Dengan demikian tujuan umum/akhir pendidikan ialahmembentuk insan kamil yaitu manusia yang dewasa jasmani danrohaninya baik secara moral, intelektual, sosial, estesis, agama danlain sebagainya.

2.Tujuan Khusus 
Tujuan ini merupakan pengkhususan dari pada tujuan umum,karena untuk menuju kepada tujuan umum itu perlu adanyapengkhususan tujuan yang disesuaikan dengan kondisi dan situasitertentu, misalnya disesuaikan dengan: a.Cita-cita pembangunan suatu masyarakat/ bangsa.b.Tugas suatu badan atau lembaga pendidikan. c.Bakat dan kemampuan anak didik. d.Kesanggupan-kesanggupan yang ada pada pendidik. e. Tingkat pendidikan, dan sebagainya. (Umar Tirtaraharja, dkk, 2005:38-39).

3.Tujuan Insidental/Seketika 
Tujuan ini disebut tujuan seketika/insidental karena tujuan initimbul secara kebetulan, secara mendadak dan hanya bersifatsesaat. Tujuan seketika ini meskipun hanya sesaat dapat memberikanandil dalam pencapaian tujuan selanjutnya, karena melalui tujuan-tujuan seperti ini dapat memberikan pengetahuan dan pengalamanlangsung yang erat hubungannya dengan kehidupannya nanti dimasa yang akan datang.

4.Tujuan Sementara 
Tujuan sementara adalah tujuan pendidikan yang dicapai si anakpada tiap fase perkembangan. Agar tujuan sementara ini dapattercapai dengan sebaik-baiknya maka pendidik harus mengetahuimasa peka yaitu masa dimana anak masanya/matang untukmempelajari sesuatu yang akan dicapai dengan tujuan tersebut.

5.Tujuan Tidak Lengkap 
Tujuan ini erat hubungannya dengan aspek-aspek pendidikanyang akan membentuk aspek-aspek kepribadian manusia, sepertimisalnya aspek-aspek pendidikan yaitu kecerdasan, moral, sosial,keagamaan, estetika, dan sebagainya.

6.Tujuan Perantara/Intermedier 
Tujuan perantara ini merupakan alat atau sarana untukmencapai tujuan-tujuan yang lain.Keenam tujuan tersebut menurut Langeveld intinya dapatdisederhanakan menjadi satu macam saja, yaitu “tujuan umum”dimana semua tujuan-tujuan (kelima tujuan yang lainnya) diarahkanuntuk pencapaian tujuan umum pendidikan yaitu terbentuknyakehidupan sebagai insan kamil, sutu kehidupan dimana ketiga intihakikat manusia baik sebagai makhluk individu, makhluk sosial danmakhluk susila/religious dapat terwujud secara harmonis.


Daftar Bacaan:
Barnadib,Sutari Imam, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Yogyakarta: Fip Ikip, 1987
Indrakusuma, Amir Daien, Pengantar ilinu Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1973.
Umar Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan (Edisi Revisi), Jakarta: Rineka Cipta, 2005
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006

Kamis, 19 Juli 2012

Tujuan Pendidikan Islam

-->
Oleh: Bukhari Umar
Menurut Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang dikutip oleh Majid ‘Irsan al-Kaylani (Majid 'Irsan al-Kaylani, 1986: 177-118), tujuan pendidikan Islam tertumpu pada empat aspek, yaitu: (1) tercapainya pendidikan tauhid dengan cara mempelajari ayat Allah SWT. dalam wahyu-Nya dan ayat-ayat fisik (afaq) dan psikis (anfus); (2) mengetahui ilmu Allah SWT. melalui pemahaman terhadap kebenaran mahluk-Nya; (3) mengetahui kekuatan (qudrah) Allah melalui pemahaman jenis-jenis, kuantitas, dan kreativitas mahluk-Nya; dan (4) mengetahui apa yang diperbuat Allah SWT. (Sunnah Allah) tentang realitas (alam) dan jenis-jenis perilakunya.
Abd al-Rahman Shaleh Abd Allah dalam bukunya, Educational Theory, a Qur’anic Outlook terj. Arifin HM, 1991: 138-153), menyatakan tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan menjadi empat dimensi, yaitu:
1.      Tujuan pendidikan jasmani (al-ahdaf al-jismiyah)
Mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi, melalui keterampilan-keterampilan fisik. Ia berpijak pada pendapat dari Imam Nawawi yang menafsirkan “al-qawy” sebagai kekuatan iman yang ditopang oleh kekuatan fisik (QS. Al-Baqarah: 247, Al-Anfal: 60).
2.      Tujuan pendidikan rohani (al-ahdaf al-ruhaniyah)
 Meningkatkan jiwa dan kesetiaan yang hanya kepada Allah SWT semata dan melaksanakan moralitas islami yang dicontohkan oleh Nabi SAW berdasarkan cita-cita ideal dalam Alquran (QS. Ali Imran: 19). Indikasi pendidikan rohani adalah tidak bermuka dua (QS.AlBaqarah: 10), berupaya memurnikan dan menyucikan diri manusia secara individual dari sikap negatif (QS. AI-Baqarah: 126) inilah yang disebut dengan tazkiyah (purfication) dan hikmah (wisdom).
3.      Tujuan pendidikan akal (al-ahdaf al-aqliyah)
Pengarahan inteligensi untuk menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan telaah tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan pesan-pesan ayat-ayat-Nya yang berimplikasi kepada peningkatan iman kepada Sang Pencipta. Tahapan pendidikan akal ini adalah:
a.      Pencapaian kebenaran ilmiah (ilm al-yaqin) (QS.Al-Takatsur:5).
b.      Pencapaian kebenaran empiris (ain al-yaqin) (QS. Al-Takatsur:7).
c.      Pencapaian kebenaran metaempiris atau mungkin lebih tepatnya sebagai kebenaran filosofis (haqq al-yaqin) (QS. Al-Waqiah: 95).
4.      Tujuan pendidikan sosial (al-ahdaf al-ijtimaiyah)
Tujuan pendidikan sosial adalah pembentukan kepribadian yang utuh yang menjadi bagian dari komunitas sosial, Identitas individu di sini tercermin sebagai "al-nas" yang hidup pada masyarakat yang plural (majemuk).
Menurut al-Ghazali, yang dikutip oleh Fathiyah Hasan Sulaiman (1986: 24), tujuan umum pendidikan Islam tercermin dalam dua segi, yaitu: (1) insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT; (2) insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Kebahagiaan dunia akhirat dalam pandangan al- Ghazali adalah menempatkan kebahagiaan dalam proporsi yang sebenarnya. Kebahagiaan yang lebih memiliki nilai universal, abadi, dan lebih hakiki itulah yang diprioritaskan.
Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi (tt: 30), tujuan pendidikan Islam adalah tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sewaktu hidupnya yaitu terbentuknya moral yang tinggi, karena pendidikan moral merupakan jiwa pendidikan Islam, sekalipun tanpa mengabaikan pendidikan jasmani, akal, dan ilmu praktis.
Ibnu Khaldun, yang dikutip oleh Muhammad Athiyah al-Abrasyi (1969: 284), merumuskan tujuan pendidikan Islam dengan berpijak pada Firman Allah SWT sebagai berikut:
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا.... (القصص: 77).
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupa bagian dan (kenikmatan) duniawi”.(QS. Al-Qashash: 77)
Berdasarkan ayat di atas, Ibnu Khaldun merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam terbagi atas dua macam, yaitu: (1) tujuan yang berorientasi ukhrawi, yaitu membentuk seorang hamba agar melakukan kewajiban kepada Allah; (2) tujuan yang berorientasi duniawi, yaitu membentuk manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kebutuhan dan tantangan kehidupan, agar hidupnya lebih layak dan bermanfaat bagi orang lain.
Abd al-Rasyid ibn Abd al-Aziz dalam bukunya, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Thuruq Tadrisiha (1975: 231-232), menukil pendapat para ahli, seperti al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ihwan Shafa, tentang rumusan tujuan pendidikan Islam yang pada akhirya ia berkesimpulan behwa tujuan pendidikan Islam adalah: (1) adanya kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT melalui pendidikan akhlak; dan (2) menciptakan individu untuk memiliki pola pikir yang ilmiah dan pribadi yang paripurna, yaitu pribadi yang dapat mengintegrasikan antara agama dengan ilmu serta amal saleh, guna memperoleh ketinggian derajat dalam berbagai dimensi kehidupan.
Ali Ashraf, (1989, 2: 130), menawarkan tujuan pendidikan Islam dengan: “terwujudnya penyerahan mutlak kepada Allah SWT, pada tingkat individu, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya”. Tujuan umum itu merupakan kristalisasi dari tujuan khusus pendidikan Islam. Menurutnya, tujuan khusus pendidikan Islam adalah:
1. Mengembangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam, serta mengembangkan pemahaman rasional mengenai Islam dalam konteks kehidupan modern.
2. Membekali anak muda dengan berbagai pengetahuan dan kebajikan, baik pengetahuan praktis, kekuasaan, kesejahteraan, lingkungan sosial, dan pembangunan nasional.
3. Mengembangkan kemampuan pada diri peserta didik untuk menghargai dan membenarkan superioritas komperatif kebudayaan dan peradaban islami di atas semua kebudayaan lain.
4. Memperbaiki dorongan emosi melalui pengalaman imajinatif, sehingga kemampuan kreatif dapat berkembang dan berfungsi mengetahui norma-norma Islam yang benar dan yang salah.
5.  Membantu peserta didik yang sedang tumbuh untuk belajar berpikir secara logis dan membimbing proses pemikirannya dengan berpijak pada hipotesis dan konsep-konsep tentang pengetahuan yang dituntut.
6. Mengembangkan wawasan relasional dan  lingkungan sebagaimana yang dicita-citakan dalam Islam, dengan melatih kebiasaan yang baik.
7. Mengembangkan, menghaluskan dan memperdalam kemampuan berkomunikasi dalam bahasa tulis dan bahasa lisan.
Rumusan tujuan pendidikan Islam yang dihasilkan dan seminar pendidikan Islam sedunia tahun 1980 di Islamabad adalah:
“Education aims at the ballanced growth of total personality of man through the training of man’s spirit, intelect, the rational self feeling and bodile sense. Education should, therefore, cater for the growth of man in all its aspects, spiritual, intelectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively, and motivate all these aspects toward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community and humanity at large.” (Arifin HM, 1991 : 4).
Maksudnya, tujuan pendidikan  Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional; perasaan dan indera. Karena itu, pendidikan  hendaknya mencakup pengembangan aspek fitrah peserta didik; aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif; dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempumaan. Tujuan terakhir pendidikan  muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.
Berdasarkan rumusan di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan  Islam merupakan proses membimbing dan membina fitrah peserta didik secara maksimal dan bermuara pada terciptanya pribadi peserta didik sebagai muslim paripurna (insan kamil). Melalui sosok pribadi yang demikian, peserta didik diharapkan akan mampu memadukan fungsi iman, ilmu, dan amal (Q.S. Al-Mujaadillah/58:11) secara integral bagi terbinannya kehidupan yang harmonis, baik dunia maupun akhirat dalam bahasa tulis dan bahasa lisan.
Muhtar Yahya (1977: 40-43) merumuskan tujuan pendidikan Islam dengan sederhana sekali, yaitu memberikan pemahaman ajaran-ajaran Islam pada peserta didik dan membentuk keluhuran budi pekerti sebagaimana misi Rasulullah SAW sebagai pengemban perintah menyempurnakan akhlak manusia, untuk memenuhi kebutuhan kerja (QS. Al-Nahl: 97, Al-An’am: 132) dalam rangka menempuh hidup bahagia dunia dan akhirat (QS. Al-Qashash: 77).
Formulasi lain dikemukakan oleh Muhammad Fadhil al-Jamali (1986: 3). Ia merumuskan tujuan pendidikan Islam dengan empat macam, yaitu: (1) mengenalkan manusia akan peranannya di antara sesama titah makhluk dan tanggungjawabnya di dalam hidup ini (2) mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat; (3) mengenalkan manusia akan alam dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberi kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat darinya; (4) mengenalkan manusia akan pencipta alam (Allah) dan menyuruhnya beribadah kepadaNya.
Dari beberapa rumusan tujuan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah: “Terbentuknya insan kamil yang memiliki wawasan kaffah agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan, dan pewaris Nabi.” Tujuan tersebut bisa dijabarkan dalam uraian sebagai berikut:
1.      Terbentuknya “insan kamil” (manusia paripurna) yang mempunyai wajah-wajah qur ‘ani. Rumusan tentang wajah-wajah qur’ani banyak sekali, namun Saefuddin AM (1990: 111-112) memberikan rumusan begitu singkat dan padat, yaitu:
a.      Wajah kekeluargaan dan persaudaraan yang menumbuhkan sikap egalitarianisme (QS. Al-Hujurat: 10-13).
b.     Wajah yang penuh kemuliaan sebagai makhluk yang berakal dan dimuliakan (QS. Al-Anfal: 4, An-Nahl: 70, Al-Isra’: 23, Al-Furqan: 72, Al-Ahzab: 44, Al-Hujurat: 13, Al-Waqiah:   77, Al-Haqqah: 40, Al-Fajr: 17, Al-’Alaq: 3).
c.      Wajah yang kreatif menumbuhkan gagasan-gagasan baru dan bermanfaat bagi kemanusiaan (QS. Al-Mu’minun: 14).
d.     Wajah yang penuh keterbukaan yang menumbuhkan prestasi kerja dan pengabdian mendahului prestasi (QS. Al-An’am: 132).
e.      Wajah yang monokotomis menumbuhkan integralisme sistem ilahiyah (ketuhanan) ke dalam sistem insaniyah (kemanusiaan) dan sistem kauniyah (kealaman) (QS. Al-Baqarah: 25, 38, Al-Imran: 9, Al-Nisa’: 135).
f.      Wajah keseimbangan yang menumbuhkan kebijakan dan kearifan dalam mengambil keputusan (Q S. Al-Rahman :78).
g.     Wajah kasih sayang menumbuhkan karakter dan aksi solidaritas dan sinergi (QS. Al-Araf: 151, 156, Al-Anbiya’: 107, Al-Isra’: 24, Al-Rum: 21, Luqman: 3, Al-Fath: 29, ‘Abasa:31, Al-Balad:17).
h.     Wajah akuristik yang menumbuhkan wajah kebersamaan dalam mendahulukan orang lain (QS. Al-Hasyr: 9).
i.       Wajah demokrasi yang menumbuhkan wajah penghargaan dan penghormatan terhadap persepsi dan aspirasi yang berbeda (QS. At-Taubat: 60, Al-Hasyr: 7). 
j.       Wajah keadilan yang menimbulkan persamaan hak serta perolehan (QS. Al-Maidah: 8).
k.     Wajah disiplin yang menimbulkan keteraturan dan ketertiban dalam kehidupan (QS. Al-Baqarah: 187, An-Nur: 51, Al-Hasyr: 18).
l.       Wajah manusiawi yang menumbuhkan usaha menghindarkan diri dan dominasi dan eksploitasi (QS. Al-Baqarah: 256, Al-Mu’min: 8, 9).
m.   Wajah penuh kesederhanaan menumbuhkan rasa dan karsa menjauhkan diri dari pemborosan (QS. Al-Baqarah: 156, Ali Imran: 15, 17, 185, An-Nisa’: 135, Al-A'raf: 131, An-Nazi’at 38, 39).
n.     Wajah yang intelektual atau terpelajar yang menumbuhkan daya imajinasi dan daya cipta (QS. Al-Mujadilah: 11).
o.     Wajah bernilai tambah (added value) (QS. Al-Hajj: 78, Al-Najm 39, Al-Hasyr: 18).
Dalam versi lain, Muhammad Iqbal, yang dikutip oleh Dawam Rahardjo (1989: 26), memberikan kriteria insan kamil dengan kriteria insan yang beriman yang di dalam dirinya terdapat kekuatan, wawasan, perbuatan, dan kebijaksanaan dan mempunyai sifat-sifat yang tercermin dalam pribadi Nabi SAW berupa akhlak karimah. Tahapan untuk mencapai insan kamil itu diperoleh melalui ketaatan terhadap hukum-hukum Allah.
2.      Terciptanya insan kaffah, yang menurut Thalhah Hasan (1986: 43-44) memiliki tiga dimensi kehidupan, yaitu dimensi religius, budaya, dan ilmiah, yaitu:
a.       Dimensi religius. yaitu manusia merupakan makhluk yang mengandung berbagai misteri dan tidak dapat direduksikan kepada faktor materi semata-mata. Dengan demikian, manusia bisa dicegah untuk dijadikan angka, atomat, dan robot yang diprogramkan secara deterministis, tetapi tetap mempertahankan kepribadian, kebebasan akan martabatnya. Cara mengangkatnya adalah dengan menjadikan ia bernilai secara spiritual dan agama, yang karenanya manusia berbeda satu dengan yang lain.
b.      Dimensi budaya, manusia merupakan makhluk etis yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap kelestarian dunia seisinya. Dalam dimensi ini, manusia mendapatkan dasar untuk mempertahankan keutuhan kepribadiaannya dan mampu mencegah arus zaman yang membawa pada disintegrasi dan framentasi yang selalu mengancam kehidupan manusia.
c.       Dimensi ilmiah, dimensi yang mendorong manusia untuk selalu bersikap objektif dan realistis dalam menghadapi tantangan zaman, serta berbagai kehidupan manusia terbina untuk bertingkah laku secara kritis dan rasional, serta berusaha mengembangkan keterampilan dan kreativitas berpikir.
3.      Penyadaran fungsi manusia sebagai hamba, khalifah Allah, serta sebagai pewaris nabi (warasat al-anbiya') dan memberikan bekal yang memadai dalam rangka pelaksanaan fungsi tersebut.  



Daftar Bacaan:
Al-Kailany, Majid Irsan, al-Fikr at-Tarbawy ‘ind Ibn Taimiyah, Al-Madinah al-Munawwarah: Maktabah Dar at-Turats, 1986
Arifin, H. M., Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, Jakarta: Bumi Aksara, 1991
Sulaiman, Fathiyah Hasan, Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, (terj.) Fathur Rahmat May dan Syamsuddin Asyrafi, dari judl asli “al-Mazahib at-Tarbawiy ‘ind Al-Ghazali “, (Bandung: Al-Ma’arif, 1986), Cet. ke-1
Abrasyi, Athiyah, al-Tarbiyat al-Islamiyyat wa Falasifatuha, Mishr: Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, t.th.
Ashraf Ali, Horison Baru Pendidikan Islam, terj. Sayed Husen Nashr, Jakarta: Firdaus, 1989
Yahya, Mukhtar, Butir-butir Berharga dalam Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1977.
Rahardjo, M. Dawam,  Insan Kamil: Konsep Manusia Menurut Islam, Jakarta, 1989
A1-Aziz, Abd al-Rasyid thu Abd, al-Ta rbi yah al-Islamniyah wa Thuruq Tadrisiha, Kuwait: Darul Buhuts al-'Ilmiyah, 1975.
Tholchah Hasan, Islam dalam Perspektzf Sosial Budaya, Jakarta: Galasa Nusantara, 1987